Lahir dari keluarga yang tidak kekurangan, bertabur cinta dan kasih sayang keluaga, Sabrina dan Elena merasa terberkati dan sangat bersyukur. Mereka bisa hidup nyaman. Mau makan, sekolah, dan apa pun, mereka tak perlu susah. Semua sudah tersedia. Namun, mereka melihat masih banyak orang yang susah diluar sana, yang berbanding terbalik dengan yang mereka rasakan. Mereka menyadari bahwa banyak anak yang tidak memiliki apa yang mereka punya. Anak-anak di luar sana banyak yang tidak punya kesempatan dan akses yang sama untuk bersekolah. Mereka harus bekerja sejak dini. Lagi pula bagaimana caranya mereka sekolah di saat mereka masih memikirkan bagaimana bisa makan hari ini? Inilah titik balik yang menjadi awal lahirnya Saab Shares.
Semua berawal dari momen perayaan ulang tahun Sabrina yang ke 16, pada 5 Maret 2014. Saat itu, ia ingin merayakan ulang tahun yang berbeda, yang berarti dan bermakna. Mamanya lalu memberi ide untuk merayakan ulang tahun sambil bermanfaat untuk orang lain. Dan lahirlah ide untuk membuat makan malam bersama teman-teman sekolah Sabrina, sambil mengajak teman-teman yang ingin membawa hadiah atau kado diganti dengan uang.
Uang ini bukan untuk Sabrina, tapi uang tersebut dikumpulkan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan opa dan oma di panti orang lanjut usia (atau lebih dikenal dengan istilah panti lansia atau panti jompo). Setelah perayaan ulang tahun itu, Sabrina lalu mengajak teman-temannya dan Elena, adiknya, untuk bersama-sama membeli kebutuhan opa dan oma tersebut, lalu membagikannya ke panti lansia. Perayaan ulang tahun kali ini adalah momen yang sangat berarti bagi Sabrina.
Agar ide berbagi di panti lansia ini lebih menggaung dan menginspirasi orang lain untuk bergerak bersama, Sabrina membuat akun Instagram dengan nama yang sama “Saab Shares”. Kata “Saab” diambil dari nama “Sabrina Bensawan” dan “Shares” berarti “berbagi.
Tujuannya sederhana, media sosial ini menjadi wadah untuk membagikan aktivitas sosial yang dilakukan Sabrina dan teman-temannya. Harapannya pun tak muluk-muluk. Hanya berharap kegiatan sosial ini bisa menginspirasi teman-temannya, khususnya teman sekolah. Pemikiran Sabrina saat itu sederhana, kalau bisa menginspirasi teman-temannya untuk merayakan ulang tahun mereka dengan berbagi kepada orang yang lebih membutuhkan, pasti lebih banyak orang yang akan terbantu. Sesimpel itu! Sabrina tidak pernah terpikir Saab Shares akan seperti hari ini.
Tak berhenti sampai di momen ulang tahun. Seperti candu, Sabrina merasa terus tepanggil untuk melakukan kegiatan berbagi lainnya. Lebih dari sebelumnya. Ditemani supirnya, sepulang sekolah, ia bersama adiknya, Elena, pergi ke kolong jembatan bantaran kereta api dan tempat pembuangan sampah. Mereka bermaksud membagikan sembako. Di sana, mereka melihat banyak anak yang sedang memulung. Anak-anak itu tidak sekolah.
Hari-hari berikutnya, Sabrina dan Elena kembali mengunjungi tempat pembuangan sampah di Jakarta, untuk mengadakan bakti sosial sambil mengajar anak-anak. Saat kelas berlangsung, ada satu anak laki-laki yang terlihat gelisah dan tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar.
Setelah kelas usai, ia langsung berlari. Berlarinya pun sangat cepat. Aneh, pikir Sabrina. Mereka pun mengikuti anak tersebut untuk mengetahui apa yang ia lakukan. Ternyata anak tersebut mendekati gerobak tuanya. Dan ketika ia hendak pergi lagi, kali ini dengan gerobaknya, Sabrina menghampirinya dan bertanya, “Kamu sedang apa, dek?”. Tebak apa jawabannya? Dia harus memulung sampah agar keluarganya bisa makan malam ini. Sabrina terdiam. Di satu sisi, hatinya hancur melihat kenyataan ini. Di sisi lain, ia bersyukur betapa beruntungnya hidupnya. Ia tak pernah khawatir apakah bisa makan hari ini dan besok. Betapa dunianya, dan dunia anak dengan gerobak sampahnya itu sangat berbeda. Sabrina merasa ia harus melakukan lebih untuk anak-anak yang tidak seberuntung dirinya.
Hari-hari berikutnya, Sabrina dan Elena kembali mengunjungi kolong jembatan di bantaran kereta api. Hal ini mereka lakukan setiap sekali seminggu. Dalam setiap pertemuan itu, mereka banyak berbincang dengan anak-anak dan ibu-ibu yang tinggal di lingkungan itu. Dari cerita mereka, Sabrina dan Elena tersadar betapa sulit hidup mereka. Mereka mengalami banyak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Suatu hari, Sabrina menghampiri satu anak, dan mengajaknya belajar. Anak itu mengaku ingin ikut belajar namun tidak izinkan oleh ibunya. Sabrina penasaran dan mencoba menghampiri sang ibu. Sesampainya di rumah, Sabrina kaget melihat ibunya sedang santai menggunakan lipstik. Ia bingung, kenapa ibu tersebut masih membeli lipstik walaupun kondisinya masih sulit.
“Saya tidak bekerja. Hanya suami saya yang bekerja. Saya harus cantik supaya suami saya enggak ninggalin saya. Karana kalau suami ninggalin, saya sama anak mau makan pakai apa?” terang ibu anak tersebut.
Pernyataan itu membuka mata dan hati Sabrina bahwa kita harus melihat segala sesuatu dari “helicopter view” dan ketidakberdayaan perempuan akan membuatnya lemah dan terancam menderita. Hal ini jugalah yang menginspirasi Saab Shares untuk membuat program pemberdayaan wanita.
Semua situasi di atas membuat Sabrina dan Elena berefleksi. Mereka ingin melakukan sesuatu yang berkelanjutan untuk membantu mengubah nasib keluarga yang hidup di kolong jembatan ini. Dan itu tidak bisa dilakukan jika hanya membawakan sembako terus-menerus. Hal yang paling mungkin bisa mengeluarkan mereka dari kesulitan hidup adalah dengan mendidik dan memberdayakan mereka. Sehingga Elena dan Sabrina memantapkan diri untuk fokus melakukan bantuan dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Karena itulah, Saab Shares membuat program yang fokus pada tiga pilar yaitu: Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan Wanita. Ketiga fokus utama ini dipilih karena Sabrina dan Elena percaya bahwa kemandirian secara finansial, karakter yang baik, pengetahuan luas, dan kesehatan yang baik dapat memutuskan rantai kemiskinan.
Kehadiran Saab Shares bagi Sabrina dan Elena, bukan sekedar gerakan berbagi, tapi ini merupakan langkah konkrit untuk berkontribusi pada pembangunan bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar, penuh potensi. Tidak kalah dengan bangsa lainnya. Bagi kedua kakak-beradik ini, Satu-satunya cara untuk turut berkontribusi membangun bangsa ini adalah dengan mengembangkan masyarakat, mengembangkan pikirannya, serta menyehatkan tubuh dan jiwanya. Karena mereka adalah kunci. Masyarakat yang menjalankan dunia. Karena itu, membangun karakter dan membentuk pola pikir masyarakat adalah kunci untuk mengembangkan masyarakat, membangun bangsa, sampai terwujudnya dunia yang lebih baik.
Sabrina selalu ingat, di setiap pertemuan orang tua dan guru, hal pertama yang mamanya tanyakan kepada guru di sekolah bukan nilai atau rangkingnya, melainkan bagaimana karakter anaknya? Apa dia bersikap baik?
Waktu itu, Sabrina masih duduk di bangku SD. Ia heran, kenapa mamanya selalu menanyakan hal tersebut. Karena penasaran, ia pun bertanya, “Ma, kenapa Mama hanya tanya tentang sikap aku setiap kali ketemu guru aku,ma?,
“Karena karakter baiklah yang paling penting. Sepintar apa pun orang, kalau karakternya buruk, ia akan memakai kepintarannya untuk hal buruk. Tapi orang dengan karakter baik, akan memakai kepintarannya untuk hal baik.” Jawab mamanya. Kata-kata itu tak akan pernah Sabrina lupakan.
Karena itu, Sabrina yakin, membangun karakter dan membentuk pola pikir masyarakat adalah kunci untuk mengembangkan masyarakat, membangun bangsa, sampai terwujudnya dunia yang lebih baik.
Awalnya, Sabrina dan Elena hanya memulai dengan kondisi yang ada dan terbatas. Sebulan kemudian, mereka mengajak relawan untuk ikut mengajar di sini. Beruntung mereka bertemu orang-orang baik, yang juga punya niat baik membantu anak-anak di samping bantaran kereta api. Bukan hanya bertemu dengan relawan pengajar, niat baik Saab
Sudah 10 tahun berjalan bukanlah waktu sebentar dan mudah bagi Saab Shares. Jatuh-bangun sudah dilalui. Namun, semua itu seperti tak ada apa-apanya ketika kini melihat dan mendengar cerita anak-anak dan ibu-ibu dampingan Saab Shares menjadi orang-orang yang sukses dan hebat. Sukses dan hebat di sini bukan hanya dalam pengertian angka-angka yang dapat dihitung, tapi lebih dari itu ketika mereka memiliki karakter yang baik, memiliki kepedulian, dan empati untuk membantu dan membahagiakan orang lain. Hal itulah yang membanggakan bagi Saab Shares.
Suatu hari, Arsella dan Mira, murid di Rumah Belajar Saab Shares bertemu seorang kakek yang sedang duduk sendirian di jalanan. Kondisinya sangat memprihatinkan, ia terlihat lemas. Ketika Mira dan Arsella melihat kondisi sang kakek, muncul rasa tidak tega dan sedih. Mira dan Arsella lalu berinisiatif mengumpulkan uang jajan mereka yang seadanya, dan membelikan makanan untuk kakek tersebut. Bahkan dengan kondisi mereka yang masih sangat terbatas, kedua anak ini rela menggunakan uang jajannya untuk membantu orang yang membutuhkan.
Sikap baik itulah yang membanggakan bagi Saab Shares. Bangga saat murid berprestasi, tapi lebih bangga lagi saat murid mereka memiliki karakter dan empati yang baik. Ini salah satu buah dari Kelas Karakter yang diajarkan di Rumah Belajar Saab Shares. Setelah kejadian itu, Sabrina dan Elena memberikan hadiah khusus sebagai apresiasi dan tanda terima kasih kepada Mira dan Arsella atas aksi mereka yang sangat inspiratif.
Pernah juga murid-murid Saab Shares membuka celengan bersama mereka untuk membeli kebutuhan para lansia (orang lanjut usia) yang hidup sebatang kara. Mereka lalu membagikan kebutuhan untuk opa dan oma dari rumah ke rumah.
Hal yang sama juga terjadi ketika gempa bumi meluluhlantahkan Lombok, Nusa Tenggara Barat, 5 Agustus 2018 lalu. Waktu itu, relawan pengajar menayangkan video bencana di Lombok kepada murid RB Saab Shares Jakarta. Setelah menonton, relawan pengajar bertanya, “Apa ada yang mau turun tangan untuk menyumbang anak-anak di Lombok yang menjadi korban?” Dan semua murid angkat tangan.
Lagi-lagi niat baik anak-anak itu membanggakan. Mereka sendiri berasal dari keluarga pra-sejahtera yang juga kekurangan, tapi tetap mau membantu. Di luar dugaan, keesokan harinya, anak-anak membawa dan mengumpulkan alat tulis, crayon, bahkan tas sekolah
yang masih baru, yang sebelumnya mereka dapatkan sebagai hadiah dari Rumah Belajar. Tas itu masih baru karena mereka belum menggunakannya. Sayang, katanya. Dan sekarang, tas kesayangan itu rela mereka berikan untuk membantu anak-anak korban gempa di Lombok.
Sungguh membanggakan dan mengharukan. Nilai yang selama ini selalu ditanamkan, “Dalam kondisi apapun, kita harus peduli dan membantu orang yang lebih membutuhkan dari kita, tanpa memandang suku atau agama apapun,” ternyata membekas di sanubari mereka.
Salah satu kisah yang juga mengharukan bagi Sabrina ketika salah satu anak penerima beasiswa pendidikan mengirim surat kepada Saab Shares. Anak berprestasi ini diterima kuliah di Institut Teknolgi Bandung (ITB), namun
ia terancam tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan kondisi ekonomi keluarganya. Saat itu, Saab Shares masih baru berdiri. Belum ada donatur. Sabrina sebagai pendiri, yang saat itu masih berstatus pelajar SMA juga tak memiliki dana. Tapi ia tak ingin melihat masa depan anak berprestasi ini berhenti karena masalah uang. Ia pun mengambil langkah cepat dengan menjual lukisan favoritnya yang ia lukis, di media sosial. Meski ini langkah berat, tapi Sabrina yakin harus melakukannya, demi menyelamatkan masa depan salah satu generasi bangsa. Beruntung, lukisan itu terjual dan dapat membiayai uang masuk kuliah anak tersebut.
Kini, anak tersebut sudah lulus kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan ternama. Setelah lulus di tahun 2019, ia mengirim surat kepada Sabrina, “Kak, terima kasih banyak ya Kak, untuk semua bantuannya selama ini. Berkat Kakak, saya berhasil lulus kuliah dan bisa kerja di perusahaan besar. Dulu, bahkan saya tidak pernah berani bermimpi untuk bisa kerja di tempat seperti ini. Sekarang saya akhirnya punya penghasilan dan bisa menguliahkan Adik saya, juga membahagiakan Ibu saya. Kak, tolong doakan supaya saya bisa jadi orang yang berhasil ya Kak, saya berharap bisa membantu dan membagikan kebaikan Kakak untuk lebih banyak orang.” Membaca ini, Sabrina merasa terharu dan bahagia tiada tara. Ia tak menyangka lukisan favoritnya dapat menjadi jembatan bagi pencapaian cita-cita salah satu generasi bangsa Indonesia.
Tak hanya pada anak murid binaan Saab Shares, ibu-ibu yang dulunya kesulitan secara finansial untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kini telah mendapatkan sumber penghasilan yang berkelanjutan melalui program Saab Shares. Tak berhenti di mereka, ibu-ibu yang telah menikmati hasil, kini melanjutkan kebaikan yang sama dengan membimbing Ibu lain agar lebih banyak ibu yang hidupnya berubah jadi lebih baik. Mereka tidak hanya meningkatkan standar hidup keluarga mereka sendiri, tetapi juga berhasil membiayai anak-anak mereka untuk mengejar pendidikan tinggi.
Dengan berurai air mata, ibu-ibu itu bercerita, kini bukan saja dia lebih dihargai oleh suami dan anaknya, tapi keberdayaan mereka telah menjadi pahlawan keluarga. Mereka akhirnya bisa merasakan rasa bangga.
Rasa bangga pada diri sendiri. Air mata bahagia itu, menjadi air mata yang membahagiakan juga bagi Saab Shares.